Sunday, 1 November 2009

postingan curhat malam-malam


Sudah lebih dari sebulan pasca kecelakaan yang membuat saya ngga bisa kuliah dan ngga lagi punya Mama. sudah lebih dari sebulan dan saya masih ngga bisa menjalankan aktivitas seperti biasa. saya masih harus ditolong kruk untuk berjalan. kaki saya baru bisa ditekuk 100derajat dan kadang-kadang masih kambuh bengkaknya. selain berat juga nyeri.

kadang, ah ngga ding! sering juga saya kangen dengan saya yang dulu yang ngga mikir banyak hal kecuali kuliah. ketika saya sedang lelah, ngga munafik juga kalau sering bertanya-tanya... kenapa segala bencana batin dan fisik ini terjadi justru saat saya merasa segalanya mulai membaik, segalanya mulai berjalan indah... saya mulai menemukan oase harapan dan kebahagiaan dari dalam diri. malah terjadi pada saat semangat kuliah saya sedang tinggi-tingginya.



ngga muna juga, belakangan ini pikiran saya tentang kuliah jadi sesuatu yang semakin membebat erat otak saya... yang semestinya sudah keberatan dibebani sebegitu rupa. melihat status-status facebook teman-teman yang sedang stres ujian ataupun kewalahan ngerjain tugas, saya kangen semua itu. berada di rumah dengan kondisi seperti ini benar-benar nyaris mematikan tawa. niat awal, saya akan masuk kuliah lagi pertengahan bulan november ini. namun dengan berbagai pertimbangan dan saran teman-teman yang mengemukakan kalau saya sebaiknya cuti saja ketimbang semuanya malah jadi makin berantakan dan diluar kemampuan saya.

hari ini saya memutuskan cuti satu semester yang berarti juga memolorkan kelulusan saya selama satu semester. fyuh.. semoga segala kesulitan ini berdampak baik di hari belakang.

segala duka yang menyelimuti rumah masih belum lenyap, pekatnya masih tetap melekat. saya tahu, lebih dari siapapun bahwa saya harus kuat dengan masa transisi ini untuk tetap bertahan dan mensupport semuanya sebisa saya. Papa saya kadang-kadang jika terlalu sedihnya karena kepikiran Mama, terbangun di waktu malam dan menemukan saya yang masih ngetik-ngetik di depan komputer kemudian sering bertanya hal-hal aneh pada saya yang akhirnya membuat saya kepikiran.. dan lumayan merana, misal : "kalau nanti Papa meninggal kira-kira bisa sama-sama lagi sama mamamu ngga ya?"

dengan semua ini, saya jadi sensitif dan lumayan gampang kesal pada orang-orang yang tidak menyadari kondisi saya dan sering menjengkelkan. saya bisa mengerti dan ngga bisa menyalahkan mereka ini yang ngga tau. yang saya masalahkan disini orang-orang yang ngga tau tapi sok tau. tapi saya mohon siapapun yang tidak tau agar bertanya dengan hati-hati jika sudah tau. seperti kapan hari ketika saya disapa YM dengan seorang teman, setelah ngobrol kesana kemari soal kuliah, ngga masuk, kenapa bisa ngga masuk dan sebabnya, tiba pada topik itu kecelakaan. si teman dengan ngga sensitifnya bertanya dgn maksud bercanda : mobilnya yang nabrak ngga apa-apa kan? astagfirullah... tega-teganya dia berkomentar begitu sebelum bertanya lebih lanjut tentang kejadian yang benar-benar mengubah hidup saya itu.

sometimes saya heran dengan banyaknya orang yang sok tau dan kadang itu menyakitkan karena bercandanya lumayan keterlaluan... kekalutan bisa membuat orang gampang marah... bahkan pada yang komen status fb saya yang memberitahu teman-teman kalau saya memutuskan untuk cuti, bukannya ditanya kenapa sebabnya ada aja orang sok tau yang kenal aja ngga kemudian ngasih komen slenge'an : cuti hamil ya?

ada juga orang yang komennya malah sama sekali ngga sopan dengan bilang : sedih ya? nangis aja dipangkuanku (padahal kenal aja ngga, yah kayaknya blogger juga tau lah bates2 kesopanan bercanda orang yang udah kenal banget dan ngga kan?). pokoknya langsung remove untuk orang-orang semacam ini.

Jadi, mohon maaf pada para blogger jika saya sensitif belakangan ini...mohon dimaklumi ya :)

Saturday, 31 October 2009

Runtut

aku lelah.......

kalimat itu tiba-tiba saja bergaung

sedikit pahit,

terlempar begitu saja dari kekosongan
dari ketiadaan
dari hampa yang bersautan


merambat pelan-pelan...


masuk ke hati.



(dini hari, awal november 2009)

Friday, 30 October 2009

:::DIAM:::


Aku tahu, apa artinya semua raut wajah itu. Aku tahu apa duka di balik nada suara itu. tidak apa-apa Pa..., kita merindukan orang yang sama. Kita kehilangan orang yang sama, dan bahkan aku bersamanya di detik-detik penghabisan itu.

Tidak perlu Papa menterjemahkannya dalam alunan kata yang sepanjang ular naga, menerawang berharap aku tahu, aku mengerti. Karena Papa cukup diam saja, hanya diam saja... dan kita sama-sama melihat bintang malam yang enggan bekerja keras memancar cahaya, memikirkan orang yang sama. Mengais kenangan yang sekiranya cukup menawar semua rasa kangen itu. Mencoba mengisi hampa udara yang mengendap di gang-gang pelosok hati. Cukup diam yang berbicara dan menyelubungi kita dan kenangan sebulan lebih lalu yang serasa jadi bertahun. aku benar-benar mengerti Pa, sungguh...



*for my beloved Dad

Wednesday, 28 October 2009

Merindu Hujan


Merindukan saat langit robek dan memuntahkan isinya : kamu. Merindukan tiraimu memapari bumi.. dan aku bisa meresapi lagi setiap tetesmu setelah lama tidak begitu, membisikimu hatiku lagi. Kamu tidak perlu menjelma atau balik berbicara. Saat ini aku hanya mau kamu mendengar, tentang dia... tentang aku, tentang hatinya... yang lelah pecah kulempar-lempar kesegala arah. Tentang sebuah kehilangan besar, dan tentang diam itu, tentang spasi yang semakin merentang... yang meresahkan.

Tapi bagaimanapun, akhirnya aku harus tahu bahwa sebenarnya aku bahkan tidak boleh menawar apapun padanya, kendati itu terlihat ringan... kendati terlihat seperti rumput kecil di taman bermain.


Aku harus sangat sadar bahwa dia hanya nampak retak di luar dengan kata-kata : bahwa sungai hanya punya satu muara, bukannya dua yang dengan jahatnya terlontar dari aku. Tapi aku tahu dia telah berdebam berantakan di dalam...

Hujan, aku merindukanmu untuk meriap, berkejap... tak harus kamu datang membawa pelangi. Aku hanya butuh kamu, meskipun kamu datang mengendap-endap laksana pencuri jemuran takut ketahuan. Meskipun pergimu pun tanpa berucap izin... aku mau kamu tau, tentang satu hal yang dia tidak tahu...

Tuesday, 27 October 2009

IF I WERE YOU, IF I WERE I AM



IF I WERE YOU
-------------------
aku akan melepaskan dia dan kenangannya...
aku akan tau dia tidak baik untukku
orang macam apa yang melepaskan orang yang katanya bersamanya dia akan merasa nyaman kemudian pergi untuk kembali pada orang yang telah bolak-balik membuatnya sedih
aku akan berhenti bersedih untuknya dan menghindari lubang hati yang lain dengan pergi
bukannya tetap berusaha menjaganya, bukannya tetap berusaha membahagiakannya meski dalam hati hancur sendiri
tidak peduli dia akan merindukanku, tidak peduli dia akan sedih tanpa aku
tidak peduli akan seberapa besar dia merasa kehilangan aku
toh dia sudah sampai pada suatu tempat ketika dia berkata kearah mana hatinya lebih banyak tertuju
meskipun aku rasa dia terlalu cepat dan memaksakan keputusannya
aku tidak peduli.


IF I WERE I AM
------------------
kamu tahu..... jika saja menghilang bisa sedemikian mudah, aku ingin menghilang dari pikiranmu..
cukup aku saja yang menyimpanmu dalam pikiran. akhirnya aku tahu, bagian paling menyakitkan adalah menyakiti orang lain... maaf.
maaf maaf maaf.
seringnya itu saja yang bisa kubilang, mungkin karena aku bukan kamu..

Monday, 26 October 2009

Aku, Kami, Tanpamu.....



aku kangen ma...


aku kangen cerita saat pikiranku penuh kangen cerita saat lelah itu mendadak berkomplot dan bersatu mendesing dalam pusaran kepalaku

aku kangen bubu bersama ketika perasaanku sangat tidak enak dengan elusan dirambutku, membuat aku merasa nyaman dan untuk sesaat merasa kembali jadi bocah yang main di pohon terus jatuh berdebam hanya karena terancam ketahuan olehmu... dan kemudian berjam-jam kita mengobrol sampai pagi, ngalor-ngidul tanpa juntrung.

aku kangen meneleponmu saat aku patah hati dan banjir ingus, sebentar-sebentar tersedak menahan sakit. aku kangen mengatakan pikiranku mampat, ketika bingung menemukan arah aliran sungaiku akan bermuara kemana.

aku kangen mendengarmu bilang aku bodoh, karena membiarkan perasaan begitu menguasai suasana hatiku melanjutkan hari. katamu aku harus cerdas mengendalikan semuanya, pada porsi yang seharusnya. karena segala yang 'sakit' itu tak pernah layak untuk terus-terusan ditengok dan ditelaah. katamu, aku merasakan cinta layaknya menelan obat pahit ketika dibawah ancaman... tetap berusaha ditelan meskipun pahitnya menyiksaku pelan-pelan

aku kangen mendengar omelanmu, lucu... karena seringnya aku mendengarkan dalam diam dengan terpaksa omelanmu yang panjang-panjang itu yang biasanya jadi semakin panjang ketika aku sedang sensitif dan pengin marah sepanjang hari. aku kangen teguranmu ketika aku berantakan untuk hal yang bahkan sesepele debu di sepatuku.

aku ingat mama perfeksionis dan nomer satu dirumah untuk urusan kerapian. dulu, ketika aku merasa kangen padamu,aku selalu bisa menyampaikan dan mendengar jawabmu hanya dengan menekan tombol : call. tidak peduli seberapa banyak biaya sambungan saat apapun, antar operator apapun.

ma, sekarang... apa mama tau apa saja yang kurasakan? apa mama tau aku merindukan semua momen itu? mungkin, mungkin mama tau... hanya saja sayangnya komunikasi bagi kita saat ini hanya komunikasi searah. aku tidak pernah lagi akan tau apa jawabmu... Jadi aku ingin bertanya, kangenkah Mama padaku?

aku harap jawabannya Ya dengan senyuman, karena aku akan selalu berusaha juga, mengingatmu, merindukanmu dengan sebanyak mungkin senyum dan meminimalisir air mataku. karena aku yakin, mama manapun akan lebih senang putrinya bertahan dan bertumbuh dewasa dalam segala hal ketimbang selalu menangis kehilangan.

Saturday, 15 August 2009

PENGARUH PATAH HATI



Saya selalu bertanya-tanya kenapa kata ‘sakit’ digabung ‘patah hati’ akan selalu memunculkan inspirasi. Kenapa karya seseorang di bidang seni akan terasa lebih bisa menyentuh pelosok hati kita ketika dia menciptakannya dalam keadaan patah hati atau mengenangkannya atau sesuatu seperti itu ketimbang ketika suasana hatinya tengah bagus dan membuat karya tentang penyanjungan?

Mungkin karena terlalu banyak orang yang pernah patah hati dan tengah mengalami patah hati di dunia tempat kita berjejak.

Saya suka sekali satu puisi Chairil Anwar yang berjudul Tak Sepadan, mungkin saya kurang banyak tahu berapa banyak puisi yang ditulis beliau, tapi saat menemukan sebuah blog berisi puisi-puisinya saya paling suka puisi ini. Bisa ‘menohok’ sekaligus mengobrak-abrik hati kita dengan sekali membacanya.

versi inggris:

I guess

These what we will be:

You marry, have baby, and happy

While I wander such Ahasveros


Cursed by Eros

I creep at the blind wall

No doors opened at all

Things will be better

By turn off this fire

For it will do you no harm

But it will burn me, no longer warm


versi indonesia:

Aku kira:

Beginilah nanti jadinya

Kau kawin, beranak dan berbahagia

Sedang aku mengembara serupa ahasveros.

Dikutuk sumpahi Eros

Aku merangkaki dinding buta

Tak satu pun juga pintu terbuka.

Jadi baik juga kita padami

Unggunan api ini

Karena kau tidak akan apa-apa

Aku terpanggang tinggal rangka

~~

Apakah rasa sedih dan sakit sedemikian bisa membius?

Entah bagaimana saya juga menjumpainya pada diri saya, luapan air mata dan kosong yang tercetak tebal dalam hati seperti air yang membludak tak cukup penampung. Seperti butuh banyak penuangan dan pelampiasan, tidak hanya tangis, tidak hanya cerita berjam-jam pada teman kita hingga lelah dan mulut kering kehausan. Maka pelampiasannya adalah bermacam prosa yang memenuhi kertas virtual, menambah beban memori laptop 12inch saya.

Saya ingat dia pernah berkeluh mengenai prosa-prosa dan puisi-puisi yang saya tulis, yang selalu menyiarkan soal orang-orang yang pernah saya cintai dan kemudian menyakiti, sangat sedikit yang tentang dia.. yang mengingat soal dia. Contohnya saja ketika melihat hujan turun… saya selalu teringat satu orang dan bukan dia. Saya bilang : entah kenapa selalu lebih gampang terispirasi sakit hati dan pedih yang berkepanjangan. Dia kesal dan bilang entah serius entah karena pengaruh kekesalannya,”kalau begitu biar saya yang buat kamu patah hati, biar kamu ingat saya terus.”

Dan dia sukses melakukannya. Dia telah berhasil mewujudkan itu.


Ketiadaan ini menyiksaku, saat semua mengarah kepadamu (numata-senandung lirih)



P.S. terima kasih pada mba fani atas awardnya